(SLEMAN) Tim peneliti Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM mengembangkan PathoCODE, media pembelajaran digital untuk kodifikasi penyakit pernapasan dan penetapan severity level dalam sistem Indonesian Case Base Groups (INA-CBG). Pengembangan dilakukan pada April hingga Oktober 2026 di Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan (MIK), Departemen Layanan dan Informasi Kesehatan, Sekolah Vokasi UGM, melalui Hibah Riset dan Pembuatan Artikel Publikasi Sekolah Vokasi UGM Tahun 2026 skema kompetitif. Penelitian diketuai oleh Dr. Rita Dian Pratiwi, S.Kep., MPH dan beranggotakan Dr. Savitri Citra Budi, S.KM., M.P.H., Nuryati, S.Far., M.P.H., dan Sugeng, S.KM., M.M. dari Sekolah Vokasi UGM, Rizqiani Amalia Kusumasari, S.Si., M.Sc. dari Departemen Parasitologi FK-KMK UGM, serta tiga mahasiswa MIK, yaitu Khodijah Aulia, Nasywa Natania Ramadhani, dan Rifka Aulia Rizki. Pembangunan platform dilakukan bersama mitra PT Lentera Amartha Berdaya.

Ketepatan kodifikasi diagnosis dan tindakan menjadi kunci dalam pembayaran rumah sakit pada program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dalam sistem INA-CBG, setiap episode rawat inap dikelompokkan berdasarkan diagnosis utama, diagnosis sekunder, dan tindakan. Kode diagnosis sekunder yang tergolong komorbiditas atau komplikasi menentukan severity level 1, 2, atau 3 beserta besaran tarifnya. Studi di Malaysia mencatat 89,4 persen rekam medis yang diaudit memuat setidaknya satu kesalahan kode, dan diagnosis sekunder menjadi unsur yang paling sering keliru. Kondisi serupa dilaporkan di sejumlah rumah sakit di Indonesia. Pengembangan PathoCODE bertujuan menyediakan media yang memadukan materi klinis, kodifikasi, dan simulasi severity level dalam satu tempat, sehingga mahasiswa dapat berlatih penalaran koding sebelum terjun ke rumah sakit.
Pengembangan PathoCODE mengikuti model ADDIE yang terdiri atas tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Pada tahap analisis, tim mengkaji capaian pembelajaran mata kuliah kodifikasi dan pedoman INA-CBG dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 26 Tahun 2021. Tahap desain dan pengembangan dikerjakan bersama PT Lentera Amartha Berdaya dan menghasilkan lima versi aplikasi yang ditelaah secara internal oleh tim. Seluruh kode diselaraskan dengan ICD-10 versi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang digunakan INA-CBG, bukan versi modifikasi klinis Amerika Serikat (ICD-10-CM). Tahap implementasi dan evaluasi dilaksanakan melalui uji coba kepada mahasiswa MIK pada September–Oktober 2026.
PathoCODE memiliki enam modul utama. Modul anatomi–patologi menampilkan sepuluh area saluran napas yang dapat diklik dan memetakan 57 kode penyakit J00–J18. Modul triase gejala membantu menelusuri kemungkinan diagnosis beserta kodenya. Modul alur pembelajaran tujuh langkah membahas sepuluh penyakit utama, mulai dari anatomi hingga INA-CBG. Simulator severity level memperlihatkan perubahan tingkat keparahan secara langsung ketika kode CC atau MCC ditambahkan. Aplikasi juga dilengkapi bank soal kasus serta referensi berupa tabel 145 kode ICD-10, panduan INA-CBG, dan glosarium 32 istilah. Aplikasi dapat diakses melalui peramban di laptop maupun ponsel pada alamat https://pathocode.jasoet.co.
“Kolaborasi lintas bidang ilmu membuat materi klinis dan materi kodifikasi dapat disusun secara utuh. Mahasiswa dapat melihat letak penyakit, perjalanan klinisnya, hingga dampaknya pada pengelompokan kasus,” ujar Rizqiani Amalia Kusumasari, S.Si., M.Sc., dosen Departemen Parasitologi FK-KMK UGM.
“Kesalahan koding yang tidak terlihat dapat berdampak pada klaim rumah sakit. Melalui PathoCODE, kami ingin mahasiswa terbiasa mengode apa yang terdokumentasi dan mendokumentasikan apa yang dikerjakan,” tutur Dr. Rita Dian Pratiwi, S.Kep., MPH.
Penelitian ini menghasilkan beberapa luaran. Luaran pertama adalah aplikasi PathoCODE yang telah diuji coba oleh 48 mahasiswa, dengan penilaian kelayakan media sebesar 81,4 persen atau kategori sangat layak. Luaran kedua adalah instrumen evaluasi yang mengukur kompetensi kodifikasi, kegunaan, dan kualitas media. Luaran berikutnya adalah naskah artikel ilmiah yang sedang disiapkan untuk jurnal internasional, serta rencana pendaftaran hak cipta atas aplikasi. Hasil uji coba juga memetakan bagian yang masih perlu diperkuat, terutama pemahaman mahasiswa dalam membedakan kode CC dan MCC.
Riset ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-3, Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya target cakupan kesehatan semesta, melalui penguatan kompetensi tenaga pengelola informasi kesehatan yang menopang ketepatan pembiayaan JKN. Riset ini juga mendukung SDG ke-4, Pendidikan Berkualitas, melalui media pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja, serta SDG ke-17, Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kolaborasi lintas fakultas dan kemitraan dengan PT Lentera Amartha Berdaya.
Ke depan, tim peneliti akan menyempurnakan PathoCODE berdasarkan masukan pengguna dan telaah ahli koding, termasuk validasi oleh koder praktisi rumah sakit dengan target skor validasi minimal 80 persen serta pencocokan dengan aplikasi grouper INA-CBG resmi. Tim juga merencanakan perluasan materi ke bab ICD-10 lainnya serta persiapan menghadapi penerapan ICD-11. PathoCODE diharapkan dapat menjadi sumber belajar pendamping bagi mahasiswa perekam medis dan informasi kesehatan, sekaligus mendukung upaya peningkatan mutu data klinis di fasilitas pelayanan kesehatan.
Akses PathoCODE: https://pathocode.jasoet.co (dapat dibuka melalui peramban di laptop maupun ponsel)