SLEMAN — Asumsi keliru atau miskonsepsi yang sering dibawa pasien saat berkonsultasi kesehatan secara daring kerap menjadi tantangan tersendiri dalam pelayanan medis modern. Merespons hal ini, tim peneliti dari Sekolah Vokasi (SV) Universitas Gadjah Mada (UGM) di bawah Departemen Layanan dan Informasi Kesehatan mengembangkan MedContradictID — dataset dan model pendeteksi miskonsepsi medis pasien pertama di Indonesia yang dibangun dari rekaman konsultasi kesehatan daring berbahasa Indonesia.
Pengembangan inovasi ini didukung Program Hibah Riset dan Pembuatan Artikel Publikasi Sekolah Vokasi UGM Tahun 2026, dan merupakan kelanjutan langsung dari riset ANOHID (Fase 1) yang sebelumnya membangun kerangka anotasi entitas medis berbahasa Indonesia. Pada fase lanjutan ini, tim lintas disiplin yang melibatkan dosen dan mahasiswa dari Prodi Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan (MIK), bersama pakar ilmu komputer dan gizi, dilibatkan langsung dalam proses kurasi data — mulai dari pengumpulan percakapan, pembersihan data, hingga pelabelan. Keterlibatan mahasiswa ini sekaligus menjadi sarana pembelajaran berbasis riset terapan (applied research) yang menjadi ciri khas pendidikan vokasi.
Salah satu hasil awal yang menarik dari penelitian ini adalah terungkapnya sejumlah mitos kesehatan yang nyata beredar di masyarakat. Dari ratusan percakapan yang dianalisis, tim menemukan klaim keliru seperti anggapan bahwa bayi perlu dibedong kencang agar kakinya lurus (dokter: justru berisiko mengganggu perkembangan sendi panggul), suplemen astaxanthin sangat ampuh menjaga kesehatan mata (dokter: manfaatnya hanya sebagian benar), hingga keyakinan bahwa merasa sehat meski merokok setiap hari berarti tidak perlu memeriksakan paru-paru (dokter: keliru dan berisiko menunda deteksi dini penyakit). Seluruh temuan ini dihimpun dalam basis data awal bernama MitosID, yang disusun berdasarkan koreksi yang benar-benar diberikan dokter dalam percakapan asli.
“Pengembangan MedContradictID merupakan langkah nyata dari ranah akademik dalam merespons tantangan digitalisasi layanan medis. Kami berharap inovasi ini tidak sekadar menjadi luaran publikasi ilmiah, tetapi mampu menjadi fondasi bagi sistem peringatan dini pada aplikasi konsultasi medis agar keselamatan pasien (patient safety) senantiasa terjaga,” ujar Dr.techn. Annisa Maulida Ningtyas, S.Kom., M.Eng., Ketua Tim Peneliti. Ia menekankan bahwa temuan MitosID saat ini masih berasal dari studi pilot berskala kecil, dan studi lanjutan pada sampel data yang jauh lebih besar tengah disiapkan untuk melihat pola miskonsepsi mana yang paling sering berulang di masyarakat.
Inovasi ini turut mendukung komitmen UGM terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) ke-3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya melalui upaya membangun basis pengetahuan tentang pola kekeliruan pemahaman kesehatan masyarakat Indonesia yang selama ini jarang didokumentasikan secara sistematis.
Ke depan, bersama mitra industri PT Tekno Global Infotama, tim berencana memperluas cakupan penelitian ke puluhan ribu percakapan konsultasi daring untuk membangun basis data MitosID yang lebih komprehensif. Departemen Layanan dan Informasi Kesehatan SV UGM berkomitmen menjadikan riset ini sebagai bagian dari penguatan kapasitas riset terapan mahasiswa sekaligus kontribusi nyata bagi literasi kesehatan digital masyarakat Indonesia.
