Peneliti SV UGM Kembangkan AIVA Guna Akselerasi Analisis Rekam Medis Elektronik Berbasis AI

Sleman — Tim peneliti dari Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) merancang inovasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence) bernama AIVA (AI-Based Virtual Assistant). Inovasi yang diketuai oleh Dian Budi Santoso, S.KM., M.P.H. ini dikembangkan di Kabupaten Sleman sebagai solusi atas kompleksitas pengelolaan data Rekam Medis Elektronik (RME) di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).

Penerapan RME di fasilitas kesehatan secara masif menghasilkan lonjakan volume data medis. Meskipun demikian, ketersediaan data tersebut belum diimbangi dengan kemudahan akses, pengolahan, serta penerjemahan data menjadi informasi strategis. Banyak pengelola rekam medis dan manajemen fasyankes menghadapi kendala teknis dalam menyusun perintah pemrograman database. Tujuan dari pengembangan AIVA adalah menjembatani jurang pemisah tersebut melalui pemanfaatan teknologi Text-to-SQL, sehingga analisis data pelayanan kesehatan dapat diakses secara cepat, mudah, dan akurat.

Dalam tahapan pengembangannya, riset ini berfokus pada penyempurnaan pemahaman AI terhadap konteks data kesehatan yang memiliki struktur dan terminologi klinis kompleks. Rangkaian aktivitas riset diawali dengan pemetaan struktur basis data pelayanan kesehatan, perancangan model penerjemah bahasa alami, hingga tahap pengujian fungsionalitas sistem. Penguji memasukkan pertanyaan operasional menggunakan bahasa sehari-hari, seperti “Berapa jumlah kunjungan pasien berdasarkan poliklinik?” atau “Sebutkan 10 besar penyakit di bulan ini”. AIVA kemudian mengolah input tersebut secara otomatis menjadi sintaks SQL dan menyajikan hasil analisis data secara real-time.

Ketua Tim Peneliti SV UGM, Dian Budi Santoso, S.KM., M.P.H., menegaskan pentingnya aspek kerahasiaan dan keamanan data pasien selama tahapan riset.

“Aspek perlindungan data menjadi perhatian paling utama dalam riset ini. Seluruh pengujian sistem AIVA kami lakukan menggunakan data sintetis, sehingga tidak ada satupun data rekam medis pasien yang dikirimkan ke model kecerdasan buatan luar. Selain itu, AIVA dirancang dengan mekanisme read-only agar sistem hanya bertugas menganalisis tanpa memiliki wewenang untuk mengubah atau menghapus data dalam basis data fasilitas kesehatan,” ujar Dian.

Hasil dari riset terapan ini membuktikan bahwa AIVA mampu menjadi alternatif teknologi pendukung analitik data yang efisien dan meminimalkan ketergantungan pengelola fasilitas kesehatan pada pemrosesan manual. Dampaknya, proses pengambilan keputusan klinis maupun operasional manajemen fasyankes dapat dilakukan berbasis bukti (evidence-based decision making).

Inovasi yang dilahirkan oleh peneliti SV UGM ini selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Riset ini secara langsung mendukung SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan mutu pengelolaan informasi dan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Di samping itu, pengembangan ini selaras dengan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) sebagai bentuk akselerasi transformasi digital di sektor pelayanan kesehatan nasional.

Ke depan, tim peneliti SV UGM berkomitmen untuk terus melanjutkan evaluasi komprehensif terhadap AIVA, mencakup pengujian keamanan siber, integrasi ke dalam sistem informasi kesehatan terpadu, serta evaluasi kesesuaian dengan kebutuhan pengguna di lapangan. Melalui Departemen Layanan dan Informasi Kesehatan (DLIKES) SV UGM, karya ini diharapkan menjadi pijakan penting dalam mentransformasi data RME dari sekadar dokumentasi administratif menjadi aset informasi strategis pelayanan kesehatan.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*