Kematian ibu masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang krusial di Indonesia. Berdasarkan data Long Form Sensus Penduduk 2020, Angka Kematian Ibu (AKI) nasional tercatat sebesar 189 per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut menunjukkan variasi yang sangat signifikan antarprovinsi, berkisar antara 48 per 100.000 kelahiran hidup di DKI Jakarta hingga 565 per 100.000 kelahiran hidup di Papua. Sementara itu, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatatkan angka kematian ibu sebesar 58 per 100.000 kelahiran hidup.
Merespons kondisi tersebut, tim peneliti dari Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dipimpin oleh M. Syairaji, S.K.M., M.P.H. melakukan kajian mendalam untuk memetakan pola dan determinan kematian ibu secara nasional maupun regional. Penelitian ini memanfaatkan data Long Form Sensus Penduduk 2020 serta data sistem surveilans kematian ibu dari Dinas Kesehatan DIY periode 2018–2025. Pemilihan DIY sebagai wilayah studi intensif didasarkan pada ketersediaan kelompok pembanding (kontrol) yang memadai, sehingga analisis faktor risiko individual dapat dilakukan secara presisi.
Rangkaian kegiatan penelitian ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan sistematis. Tahap awal dimulai dengan kompilasi dan pembersihan data sekunder Sensus Penduduk 2020. Selanjutnya, tim peneliti melakukan pemadanan data pelayanan kesehatan ibu dan anak dari Dinas Kesehatan DIY. Tahap berikutnya diisi dengan analisis inferensial menggunakan metode kasus-kontrol, penyusunan sintesis temuan riset, hingga perumusan rekomendasi kebijakan bagi pemangku kepentingan di bidang kesehatan masyarakat.
Dalam analisis tingkat daerah di DIY, tim peneliti mengkaji 361 kasus kematian ibu dan 293.190 data kontrol. Aktivitas utama riset berfokus pada pengidentifikasian proporsi penyebab kematian, periode rentan, serta karakteristik demografi ibu. Hasil analisis menunjukkan bahwa komplikasi nonobstetrik menjadi kelompok penyebab kematian ibu terbanyak, yaitu sebesar 46,3 persen. Penyebab berikutnya didominasi oleh perdarahan obstetrik sebesar 19,9 persen dan gangguan hipertensi sebesar 16,6 persen. Dari seluruh kasus yang memiliki catatan waktu kematian, sebanyak 58,5 persen kematian terjadi pada masa pascapersalinan (postpartum).
“Temuan ini mengindikasikan adanya pergeseran tantangan klinis, di mana penyakit nonobstetrik mendominasi kasus kematian ibu. Oleh karena itu, penguatan deteksi dini serta kesinambungan pelayanan kesehatan sejak masa kehamilan, persalinan, hingga pascapersalinan menjadi hal yang sangat mutlak,” tegas dosen Sekolah Vokasi UGM sekaligus ketua tim peneliti, M. Syairaji, S.K.M., M.P.H.
Selain mengidentifikasi penyebab utama, penelitian ini menemukan adanya hubungan antara kejadian kematian ibu dengan paritas dan usia ibu. Meskipun demikian, M. Syairaji dan tim menekankan bahwa hubungan statistik tersebut tidak dapat ditafsirkan secara langsung sebagai hubungan sebab-akibat. Peneliti juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam membandingkan data nasional dan daerah karena adanya perbedaan sumber data, rentang waktu pencatatan, serta definisi operasional.
Hasil dan luaran dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan strategis bagi evaluasi sistem pelayanan kesehatan maternal. Luaran riset berfokus pada dorongan peningkatan deteksi dini komplikasi, ketepatan prosedur rujukan, pemantauan ketat masa pascapersalinan, serta penguatan manajemen informasi kesehatan dan kelengkapan rekam medis ibu. Upaya ilmiah ini secara langsung mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, dengan target penurunan Angka Kematian Ibu global.
Sebagai langkah tindak lanjut, Sekolah Vokasi UGM berkomitmen untuk terus memperkuat riset terapan di bidang layanan dan informasi kesehatan. Melalui kolaborasi antara program studi Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan dan Magister Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Sekolah Vokasi UGM siap mendukung pemerintah dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam merumuskan kebijakan berbasis bukti guna menekan angka kematian ibu secara berkelanjutan.
