Cegah Cedera Otot Petugas Rekam Medis, Tim Riset SV UGM Terapkan RULA Berbasis AI

KABUPATEN SLEMAN — Tim peneliti dari Fakultas Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) menerapkan inovasi alat pemantau postur tubuh ergonomis berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Computer Vision di Unit Rekam Medis RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Langkah strategis ini dilakukan untuk mendeteksi serta mencegah risiko cedera otot rangka atau Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada petugas rekam medis akibat postur kerja janggal saat duduk dan beraktivitas di depan komputer secara terus-menerus.

Inovasi teknologi ini berawal dari tingginya prevalensi gangguan muskuloskeletal yang menjadi ancaman nyata bagi pekerja kantoran maupun tenaga kesehatan. Berdasarkan data World Health Organization (WHO), sekitar 1,7 miliar orang di dunia mengalami gangguan muskuloskeletal. Sementara itu, data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) mencatat prevalensi MSDs di Indonesia mencapai 7,30%. Kondisi ini memicu nyeri kronis, keterbatasan gerak, hingga penurunan produktivitas kerja jika tidak diintervensi sejak dini.

Pengembangan alat pemantau postur tubuh ini diketuai oleh Dina Fitriana Rosyada dalam rangkaian penelitian bertahap sejak tahun 2023 hingga 2025. Alat ini dirancang dengan mengintegrasikan algoritma AI Computer Vision untuk memetakan dan mengukur tingkat risiko ergonomi tubuh bagian atas menggunakan metode Rapid Upper Limb Assessment (RULA). Metode RULA berfokus pada penilaian beban dan posisi lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan, leher, serta punggung pekerja. Dalam uji simulasi awal, alat ini terbukti berakurasi tinggi dengan tingkat kesalahan sangat rendah (pengujian signifikansi ).

Implementasi alat di lapangan dilakukan secara langsung pada unit rekam medis RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Petugas rekam medis dipantau secara real-time selama menjalankan tugas harian di stasiun kerja masing-masing. Alur kegiatan dimulai dari pemasangan instrumen sensor visual AI, pemantauan postur duduk saat mengetik dan mengolah data medis, hingga analisis data otomatis yang menghasilkan parameter skor RULA.

Dari hasil pengukuran awal di lapangan, rata-rata petugas rekam medis menunjukkan skor RULA pada rentang 3–4, yang tergolong dalam kategori tingkat Risiko Sedang. Temuan ini mengindikasikan bahwa postur kerja petugas memerlukan investigasi lebih lanjut serta penyesuaian minor pada desain stasiun kerja maupun metode aktivitas harian.

“Penerapan teknologi AI Computer Vision ini memungkinkan evaluasi ergonomi dilakukan secara kontinu dan objektif tanpa mengganggu alur kerja petugas. Kami berharap data skor RULA ini menjadi acuan presisi bagi manajemen rumah sakit dalam merancang intervensi ergonomi yang tepat sasaran,” ujar Dina Fitriana Rosyada, S.K.M., M.KL. selaku Ketua Tim Peneliti.

Hasil dan luaran dari penerapan teknologi ini memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan ergonomis di fasilitas pelayanan kesehatan. Kehadiran pemantau RULA berbasis AI ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan keselamatan kerja tenaga kesehatan, serta SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) melalui pemanfaatan kecerdasan buatan untuk solusi kesehatan kerja masa kini.

Ke depan, tim riset SV UGM berkomitmen untuk melanjutkan pendampingan berupa evaluasi ulang desain stasiun kerja (workstation redesign) dan penyusunan edukasi peregangan mandiri (stretching) bagi petugas. Langkah tindak lanjut ini diharapkan dapat menekan angka skor RULA ke tingkat risiko rendah serta memperkuat budaya K3 di lingkungan pelayanan medis secara berkelanjutan.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*