KULON PROGO – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) melaksanakan program pendampingan bertajuk “Penerapan Manajemen Risiko K3 pada Proses Pengeringan Kakao untuk Mendukung Pascapanen Aman dan Bermutu” di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Kamis (09/07/2026). Kegiatan ini didanai melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Sekolah Vokasi UGM Tahun 2026 sebagai wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mengaplikasikan keilmuan tepat guna di masyarakat.
Program ini dilatarbelakangi oleh tingginya potensi kakao sebagai komoditas unggulan daerah Kulon Progo yang belum diimbangi dengan penerapan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada tahapan pascapanen. Pada proses pengeringan kakao, para pelaku usaha dan kelompok tani kerap dihadapkan pada berbagai potensi bahaya operasional. Potensi risiko tersebut meliputi penggunaan alat kerja yang belum memenuhi standar teknis, kondisi lingkungan kerja yang kurang terpantau, aspek ergonomi pekerja, hingga ancaman keselamatan operator selama proses pengolahan. Oleh karena itu, pendampingan ini bertujuan untuk memetakan bahaya, menilai tingkat risiko, serta merumuskan langkah pengendalian terpadu guna menjamin keselamatan pekerja sekaligus meningkatkan mutu produk akhir kakao.
Rangkaian kegiatan diawali dengan observasi lapangan dan identifikasi kondisi eksisting proses pengeringan kakao milik mitra. Tim pengabdian meninjau secara mendalam pola kerja, penggunaan peralatan, serta potensi bahaya fisik maupun ergonomis yang ada di area kerja. Setelah pemetaan awal, kegiatan dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi edukatif, diskusi interaktif, serta simulasi praktik identifikasi risiko secara mandiri oleh para peserta.
Materi utama yang disampaikan mencakup prinsip dasar K3 agroindustri, teknik identifikasi bahaya (hazard identification), penilaian risiko (risk assessment), serta penetapan langkah pengendalian risiko (risk control). Selain itu, tim pengabdian memberikan pemahaman mengenai penyusunan Prosedur Operasional Standar (SOP) kerja aman, pentingnya penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang tepat, serta penataan lingkungan kerja yang sehat dan higienis.
Ketua Tim PkM SV UGM, Dr. Diki Bima Prasetio, S.K.M., M.P.H., menegaskan pentingnya integrasi budaya K3 pada sektor industri pengolahan hasil pertanian skala UMKM maupun kelompok masyarakat.
“Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja tidak hanya diperlukan pada industri besar, tetapi juga penting diterapkan pada industri kecil dan kegiatan pengolahan hasil pertanian. Dengan memahami potensi risiko sejak awal, masyarakat dapat melakukan pengendalian yang tepat sehingga proses pengeringan kakao menjadi lebih aman dan mutu produk dapat lebih terjaga,” ujar Dr. Diki Bima Prasetio.
Melalui pendampingan ini, masyarakat pengolah kakao memperoleh peningkatan pemahaman yang signifikan mengenai pentingnya K3 dalam operasional harian. Sebagai luaran konkret, kegiatan ini menghasilkan dokumen rekomendasi pengendalian risiko yang kontekstual dan aplikatif untuk diterapkan oleh mitra secara mandiri dan berkelanjutan.
Kegiatan pengabdian ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penciptaan lingkungan kerja yang aman dan produktif; SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) lewat penerapan teknologi terapan di sektor agroindustri; SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) guna menjaga kualitas produk kakao; serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui sinergi akademisi dan masyarakat.
Sebagai rencana tindak lanjut, SV UGM berkomitmen untuk terus memperkuat pendampingan berbasis penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi terapan. Langkah ini diharapkan mampu mendorong terbentuknya budaya kerja aman secara berkelanjutan sekaligus meningkatkan daya saing komoditas kakao lokal di pasar regional maupun nasional.

