Resiliensi Menjadi Kunci Mahasiswa Pekerja Tetap Berprestasi di Tengah Tuntutan Kerja

Yogyakarta, Oktober 2025, Tim peneliti dari Program Studi Magister Terapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkap bahwa resiliensi atau ketahanan psikologis menjadi kunci bagi mahasiswa pekerja untuk tetap berprestasi di tengah tekanan ganda antara dunia kerja dan studi pascasarjana.

Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Grhasta Dian Perestroika, S.ST., M.Kes, menganalisis hubungan antara resiliensi, beban kerja, dukungan sosial, dan prestasi akademik pada 95 mahasiswa pascasarjana yang bekerja penuh waktu di berbagai sektor industri dan layanan. Resiliensi dijelaskan sebagai kemampuan seseorang untuk beradaptasi dan bangkit dari tekanan, menjaga motivasi, serta tetap fokus mencapai tujuan meski menghadapi tantangan berat. Bagi mahasiswa pekerja, resiliensi menjadi modal penting untuk mengatur waktu, mengelola stres, dan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan studi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang meluangkan waktu belajar lebih banyak setiap minggu cenderung memiliki nilai akademik lebih tinggi. Namun, dukungan dari tempat kerja tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan prestasi. Dalam beberapa kasus, dukungan tersebut justru diberikan kepada mahasiswa dengan tanggung jawab kerja yang lebih besar sehingga waktu belajarnya menjadi terbatas. Sementara itu, resiliensi tidak terbukti secara langsung meningkatkan indeks prestasi kumulatif (IPK), tetapi tetap berperan penting sebagai penopang mental agar mahasiswa mampu menghadapi tekanan akademik dan profesional dengan lebih stabil.

Menurut Dr. Grhasta, hasil penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan mahasiswa pekerja tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga pada sistem pembelajaran yang fleksibel dan dukungan institusional yang memadai. “Mahasiswa pekerja membutuhkan ruang belajar yang menyesuaikan realitas mereka. Resiliensi memang penting, tapi tanpa dukungan sistem yang manusiawi dan adaptif, mereka akan mudah kelelahan,” ujarnya.

Penelitian ini sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama SDG 3 tentang kesehatan dan kesejahteraan, SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, serta SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, riset ini juga sejalan dengan Flagship UGM “Ketangguhan Sosial Budaya Masyarakat,” dengan menekankan pentingnya membangun ketangguhan individu dan kelembagaan dalam menghadapi tekanan sosial dan profesional di era modern.

Kajian ini merupakan kelanjutan dari penelitian bibliometrik berjudul “A Bibliometric Study on Resilience and Academic Achievement among Working Students” (Perestroika & Putri, 2025), yang menunjukkan bahwa secara global topik resiliensi dan prestasi akademik semakin banyak diteliti, namun masih jarang dikaji di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Melalui analisis terbaru ini, UGM menjadi salah satu pelopor dalam mengisi kesenjangan tersebut di Indonesia dengan data empiris yang kuat.

Dr. Grhasta menambahkan bahwa hasil riset ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi perguruan tinggi untuk memperkuat kebijakan pembelajaran fleksibel dan program pengembangan resiliensi, seperti pelatihan manajemen stres dan mentoring sejawat. Dunia kerja juga diharapkan dapat menciptakan budaya yang mendorong pembelajaran berkelanjutan tanpa menambah tekanan bagi karyawannya. “Resiliensi bukan hanya kemampuan untuk bertahan, tetapi juga kekuatan untuk terus tumbuh di tengah perubahan,” tegasnya.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*