Peneliti Sekolah Vokasi UGM Kembangkan GEODANCE: Sistem Analisis Spasial untuk Surveilans DBD Berbasis R-Shiny

Yogyakarta, Oktober 2025 — Dr. Marko Ferdian Salim., S.K.M., M.P.H., peneliti dari Departemen Layanan dan Informasi Kesehatan (DLIKES), Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, berhasil mengembangkan GEODANCE (Geospatial Dengue Analysis and Surveillance Framework), sebuah sistem interaktif berbasis R-Shiny yang dirancang untuk memantau dan menganalisis penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) secara spasial di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Framework ini dikembangkan sebagai inovasi teknologi pendukung sistem surveilans kesehatan masyarakat yang lebih responsif, integratif, dan berbasis data spasial. GEODANCE menggabungkan kekuatan data analytics dengan pemodelan spasial untuk memetakan wilayah dengan tingkat risiko relatif tinggi terhadap kasus DBD.

“Melalui GEODANCE, pemangku kepentingan dapat memantau tren kasus DBD, memvisualisasikan distribusi spasial kasus, dan mengidentifikasi wilayah prioritas intervensi secara cepat dan akurat,” ujar Marko Ferdian Salim, peneliti sekaligus pengembang sistem ini. Menurutnya, integrasi data spasial dengan pendekatan statistik berbasis model spasial memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang dinamika penyebaran penyakit menular di tingkat lokal.

Hasil analisis yang dilakukan menggunakan GEODANCE menunjukkan bahwa wilayah dengan risiko relatif tinggi (SIR > 2,0) teridentifikasi di beberapa kecamatan di Kabupaten Bantul bagian utara dan Sleman bagian selatan, sementara wilayah dengan risiko rendah sebagian besar berada di Gunungkidul bagian selatan dan Kulon Progo bagian barat. Pola ini menunjukkan adanya indikasi autokorelasi spasial positif, yang menandakan pengelompokan kasus pada wilayah berdekatan dengan karakteristik lingkungan serupa. Pengembangan GEODANCE selaras dengan komitmen Universitas Gadjah Mada dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Tujuan 3 (Good Health and Well-being) tentang peningkatan kesehatan masyarakat, serta Tujuan 11 (Sustainable Cities and Communities) tentang penguatan ketahanan kota terhadap risiko kesehatan lingkungan.

“Framework ini diharapkan dapat menjadi decision-support system bagi pemerintah daerah dalam perencanaan kebijakan kesehatan berbasis bukti (evidence-based policy), serta model pengembangan sistem surveilans digital untuk penyakit menular di Indonesia,” tambah Marko. Ke depan, GEODANCE akan terus dikembangkan untuk mencakup integrasi data lingkungan dan iklim, sehingga dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini (early warning system) dalam pengendalian penyakit berbasis vektor. Inovasi ini diharapkan menjadi kontribusi nyata Sekolah Vokasi UGM dalam mendukung transformasi digital kesehatan masyarakat dan pencapaian target nasional menuju Indonesia Sehat 2045.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*