Tekan Risiko Ergonomi, SV UGM Gagas Perbaikan Keselamatan Kerja Perajin Pelepah Pisang Kulon Progo

KULON PROGO (Kamis, 20 Agustus 2026) – Industri kerajinan berbahan dasar pelepah pisang di Kabupaten Kulon Progo tidak hanya terpusat pada tempat produksi utama, tetapi juga sangat bergantung pada kontribusi perajin rumahan sebagai rantai pasoknya. Melihat kondisi lingkungan kerja informal yang sering luput dari pengawasan, tim peneliti dari Departemen Layanan dan Informasi Kesehatan (Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan dan Magister Keselamatan dan Kesehatan Kerja), Fakultas Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada (UGM), melaksanakan kegiatan identifikasi bahaya dan risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Kegiatan ini dilangsungkan pada Kamis (20/8/2026) dengan menyasar langsung lokasi kerja para perajin.

Tim peneliti ini diketuai oleh Dian Herawati, S.T., SST., M.P.H., bersama para pakar dan peneliti, yaitu Dr. Ir. Nurulia Hidayah, S.Pt., M.P., IPM., ASEAN Eng., Dr. Nur Rokhman, S.Si., M.Kom., Ir. Ardiyanto, S.T., M.Sc., Ph.D., AEP., IPM., Rizki Fauziah Muawan, Tosan Aji, dan Shafa Danella Apta Sani. Latar belakang dari penelitian ini adalah tingginya beban kerja fisik yang kerap tidak disadari oleh para perajin rumahan. Kegiatan ini memiliki tujuan utama memetakan potensi bahaya kerja di sektor informal dengan manfaat jangka panjang berupa usulan perbaikan sistem kerja yang lebih ergonomis.

Rangkaian kegiatan observasi lapangan diawali dengan pemetaan alur kerja, dilanjutkan dengan wawancara mendalam mengenai keluhan fisik perajin, pengukuran postur tubuh saat memproses bahan baku, dan diakhiri dengan evaluasi stasiun kerja. Pada aktivitas utamanya, tim meninjau langsung bagaimana bahan baku berupa pelepah pisang basah hasil pemilinan diterima oleh perajin. Bahan basah tersebut memiliki bobot yang cukup berat saat diangkut. Proses pengangkatan ini sering kali dilakukan dengan postur yang tidak alamiah, sehingga berpotensi menimbulkan risiko ergonomi berupa cedera musculoskeletal pada bagian punggung, bahu, dan pergelangan tangan.

Tahapan kerja di rumah sepenuhnya berfokus pada proses pembentukan dan penjahitan kerajinan yang dilakukan secara manual. Ketiadaan alat bantu mekanis menuntut pekerja untuk melakukan gerakan repetitif secara terus-menerus. Kondisi tersebut secara signifikan meningkatkan kelelahan otot jari dan tangan. Setelah terbentuk, produk setengah jadi dikembalikan ke tempat produksi utama untuk tahapan lanjutan seperti penjemuran, pemutihan (bleaching), dan pelapisan pernis agar produk tampil mengilap.

Menanggapi temuan awal di lapangan, Dian Herawati, S.T., SST., M.P.H., selaku ketua tim peneliti memberikan pandangannya. Hasil perekaman postur kerja menunjukkan posisi janggal yang dibentuk tubuh pengrajin selama bekerja, sehingga perlu penilaian obyektif menggunakan instrumen REBA (Rapid Entire Body Assessment) atau RULA (Rapid Upper Limb Assessment) tegasnya.

 

Luaran yang ditargetkan dari kegiatan ini adalah penyusunan dokumen pemetaan risiko kerja yang komprehensif untuk sektor perajin rumahan. Dokumen ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam merancang prototipe alat bantu kerja yang ergonomis. Dampaknya, tidak hanya angka keluhan fisik pekerja yang menurun, tetapi kesadaran para pengusaha selaku pengepul juga meningkat agar lebih peduli terhadap perlindungan perajin mitranya.

 

Upaya identifikasi dan perbaikan kondisi kerja ini memiliki keterkaitan erat dengan komitmen pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Langkah ini secara langsung mendukung SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja, serta bertepatan dengan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan mendorong terciptanya lingkungan kerja yang aman, inklusif, dan produktif.

 

Sebagai rencana tindak lanjut, tim peneliti UGM berkomitmen merumuskan rekomendasi perbaikan fasilitas kerja yang disesuaikan dengan kondisi riil dan kemampuan ekonomi perajin. Diharapkan ke depannya, kolaborasi berkelanjutan ini dapat melindungi aspek keselamatan pekerja sekaligus menjaga produktivitas kerajinan serat pelepah pisang di Kabupaten Kulon Progo.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*