Tim peneliti yang diketuai oleh Dina Fitriana Rosyada, S.KM., M.K.L dengan anggota Dr. Nur Rokhman, S.Si., M.Kom., Ir. Felixtianus Eko Wismo Winarto, M.Sc., Ph.D, Rafael Radya, Marco Aland, Kevin, Dhea, dan Syva untuk pemasangan alat deteksi risiko gangguan otot rangka akibat kerja (GOTRAK) berbasis computer vision di ruang Unit Kerja Rekam Medis (UKRM) RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Kegiatan ini disiapkan sejak pertengahan tahun 2025, mulai dari rencana pembuatan konsep alat, desain hingga penerapannya. Pemasangan alat dilakukan selama lima hari. Alat ini secara otomatis merekam posisi duduk ergonomis petugas perekam medis di ruangan selama bekerja di depan komputer, yang selanjutnya dianalisis risiko gotrak pada masing-masing petugas. Penerapan pemasangan alat ini dilakukan selama lima hari kerja yakni mulai Hari Senin hingga Jumat di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Ada sebanyak 6 sampai 7 petugas yang terdeteksi oleh alat sehingga dapat dianalisis risiko gotrak petugas.
Dina Fitriana R menyampaikan bahwa ada 1 alat yang telah diterapkan dalam kegiatan penelitian ini, yang dapat menjangkau pemantauan kursi petugas koder dan pembuat pelaporan pasien serta analisis informasi kesehatan.
“Alat yang dipasang ini dibuat dengan menggunakan kemutakhiran teknologi artificial intelligent dengan jenis computer vision. Selain itu alat dapat dimonitor dari jarak jauh karena dilengkapi internet of things (IoT), sehingga kami bisa melihat aktivitas duduk petugas kesehatan meskipun kami tim peneliti sedang di luar rumah sakit, termasuk memastikan bahwa alat sedang merekam data atau tidak, atau bahkan jika alat mengalami kendala error, meskipun error tersebut tidak terjadi selama alat dipasang di UKRM RS”, paparnya.
Menurut dia penerapan alat ini membantu deteksi tingkat risiko gotrak petugas rekam medis dan informasi kesehatan sehingga petugas dapat mengevaluasi cara duduk ketika bekerja lebih memperhatikan kesehatan otot rangka utamanya terkait tulang belakang dan bagian leher pada petugas kesehatan yang pekerjaannya berjam-jam dilakukan di depan computer dalam mengelola data pasien. Penerapan alat ini mendukung terwujudnya SDGs poin 3 yaitu kesehatan dan kesejahteraan.
“Kami berharap teknologi ini dapat membantu peningkatan kesehatan otot dan rangka dalam kaitannya membudayakan bekerja yang aman, nyaman dengan memperhatikan keselamatan dan kesehatan kerja (K3)”, pungkas Dina.

