Determinan Organisasi dan Individu yang Menyebabkan Gangguan Otot Rangka pada Bidan

Yogyakarta, April-Oktober 2025 – Sebuah studi yang dilakukan Dian Herawati, S.T., SST., MPH.,  salah satu dosen pada Departemen Layanan dan Informasi Kesehatan Sekolah Vokasi UGM, mengungkapkan perlunya kajian mengenai Gangguan Otot Rangka (Gotrak) di kalangan bidan yang bekerja di Puskesmas di Yogyakarta. Hal ini sejalan dengan topik riset yang Dian lakukan yaitu Pengukuran Prevalensi Kejadian Gangguan Otot Rangka pada Bidan karena Aktivitas Kerja di Puskesmas. Penelitian untuk memenuhi standar SDGs ke 3 pada poin “bodily autonomy” dan SDGs ke 8 pada poin “decent work” Dimana setiap pekerja berhak mendapatkan pekerjaan yang layak dan mendapatkan otonomi terhadap tubuhnya salah satunya dengan pemenuhan aspek ergonomi kerja.

Prevalensi gangguan ini sangat tinggi, dengan lebih dari 50% bidan melaporkan bahwa kondisi mereka secara signifikan mengganggu kinerja mereka. Situasi ini menimbulkan keprihatinan tentang kesehatan dan kesejahteraan pekerja kesehatan yang sangat penting ini, menyoroti perlunya intervensi segera.

Penelitian yang dilakukan melalui survei online dengan desain cross-sectional bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko individu dan organisasi yang berkontribusi pada tingginya insiden Gotrak di kalangan bidan. Temuan menunjukkan adanya hubungan signifikan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dan kerja shift dengan prevalensi Gangguan Otot Rangka. Bidan yang berusia antara 31 hingga 44 tahun, khususnya yang diklasifikasikan sebagai Obesitas I (IMT 25-29,9), ditemukan sebagai kelompok yang paling terpengaruh.

Dari perspektif organisasi, studi ini mengungkapkan celah kritis dalam dukungan untuk bidan. Sebanyak 83,3% responden melaporkan tidak memiliki pedoman ergonomis di tempat kerja mereka, sementara 87,8% belum pernah menerima pelatihan tentang ergonomi. Selain itu, 66,7% bidan menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki asisten rumah tangga, yang memperburuk beban gabungan dari tanggung jawab pekerjaan dan domestik. Temuan ini menekankan perlunya intervensi ergonomi dan psikososial yang komprehensif untuk mengurangi risiko Gangguan Otot Rangka.

Implikasi dari hasil ini tidak hanya berpengaruh pada kesehatan individu, mereka juga berdampak pada kepuasan kerja dan keberlanjutan tenaga kerja untuk beraktivitas optimal. Dengan mengatasi tantangan ergonomi yang dihadapi oleh bidan, organisasi kesehatan dapat meningkatkan kepuasan kerja, mengurangi tingkat perputaran, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas perawatan yang diberikan kepada pasien. Ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam mempromosikan pekerjaan yang layak dan memastikan kehidupan yang sehat serta kesejahteraan bagi semua.

Lebih jauh lagi, studi ini menekankan pentingnya reformasi kebijakan dan perbaikan tempat kerja untuk mendukung kesehatan dan kesejahteraan bidan. Menerapkan pedoman ergonomi dan memberikan pelatihan dapat memberdayakan bidan untuk melaksanakan tugas mereka dengan lebih efektif sambil meminimalkan risiko cedera. Pendekatan ini tidak hanya menguntungkan bidan tetapi juga berkontribusi pada efisiensi keseluruhan layanan kesehatan di masyarakat.

Tindak lanjut temuan ini harapannya para pemangku kepentingan di sektor kesehatan didorong untuk memprioritaskan pengembangan kebijakan dan program yang mendukung tantangan unik yang dihadapi oleh bidan. Upaya kolaboratif antara lembaga pemerintah, organisasi kesehatan, dan institusi pendidikan sangat penting untuk menciptakan kerangka kerja yang berkelanjutan yang mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan penyedia layanan kesehatan yang vital ini.

Seiring berjalannya studi ini, sangat penting untuk memantau pelaksanaan intervensi yang direkomendasikan dan menilai dampaknya dalam mengurangi prevalensi gangguan otot rangka di kalangan bidan. Evaluasi berkelanjutan akan memastikan bahwa strategi yang diterapkan efektif dan bahwa bidan menerima dukungan yang mereka butuhkan untuk dalam meningkatkan peran mereka.

Sebagai kesimpulan, tingginya prevalensi Gangguan Otot Rangka di kalangan bidan memerlukan tindakan segera. Dengan fokus pada praktik ergonomis, memberikan pelatihan yang memadai, dan mereformasi kebijakan tempat kerja, kita dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bidan, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas layanan kepada komunitas yang mereka layani.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*