Penulis: Marko Ferdian Salim
Bantul, DIY – Leptospirosis terus menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Kabupaten Bantul, dengan jumlah kasus tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam beberapa tahun terakhir, angka Case Fatality Rate (CFR) leptospirosis menunjukkan tren peningkatan, yang menggarisbawahi urgensi tindakan pencegahan dan pengendalian penyakit ini.
Marko Ferdian Salim, Sugeng, dan Afifah Ainul Muna, tim peneliti dari Departemen Layanan dan Informasi Kesehatan, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), baru-baru ini melakukan penelitian untuk mengembangkan metode prediksi yang lebih akurat guna memantau dan mencegah kejadian leptospirosis. Penelitian ini menggunakan metode Simple Exponential Smoothing (SES) dan Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) pada data surveilans leptospirosis di Bantul.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode SES memberikan prediksi yang lebih akurat, berdasarkan nilai Mean Square Error (MSE) dan Mean Absolute Error (MAE), dibandingkan metode ARIMA. Dengan hasil ini, tim peneliti merekomendasikan agar Dinas Kesehatan dan Puskesmas di Kabupaten Bantul menerapkan metode SES secara rutin untuk memprediksi kejadian leptospirosis. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat upaya pencegahan dini dan mengurangi angka kasus serta kematian akibat leptospirosis.
Penelitian ini memiliki kaitan erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 yang menargetkan kesehatan yang baik dan kesejahteraan bagi semua. Inovasi dalam prediksi penyakit melalui penggunaan teknologi juga mendukung SDG 9 yang berfokus pada pembangunan infrastruktur dan inovasi.
“Dengan prediksi yang lebih akurat, tindakan pencegahan dapat dilakukan lebih awal, sehingga angka Incidence Rate (IR) dan Case Fatality Rate (CFR) leptospirosis dapat ditekan,” ujar Marko Ferdian Salim, selaku ketua tim peneliti.
Penelitian ini menyoroti pentingnya penggunaan teknologi dan data surveilans dalam memerangi penyakit menular seperti leptospirosis, sekaligus mendukung sistem kesehatan yang lebih tangguh dan responsif terhadap ancaman kesehatan di masa mendatang.